Rabu, 10 Agustus 2011

Fiqih Puasa


Fiqih Puasa
Disampaikan pada pesantren kilat di masjid Al-Istiqamah Keraton Cirebon

  1. Pengertian dan Landasan Syar’i Puasa

a. Pengertian Puasa
Puasa atau yang disebut “shiyaam dan shaum” dalam bahasa Arab, secara etimologi berarti al-imsak (menahan diri) dari sesuatu baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.
Dan secara terminology Ulama fikih sepakat mendefinisikan puasa dengan “menahan diri dengan niat ta’abbud dari makan, minum, hubungan biologis dan segala perbuatan yang membatalkan sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari”.

b. Landasan Syar’i Puasa
Hukum wajib berpuasa pada bulan Ramadlan didasarkan kepada beberapa sumber hukum Islam, yaitu Al-Quran, As-Sunnah dan Al-Ijma’

1.      Al-Quran
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2:183) 

2.      As-Sunnah
Hadits Jibril yang bertanya kepada Rasulullah tentang “al-Islam” (HR Al-Bukhari Muslim)
“Islam dibangun di atas lima dasar; bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menjalankan ibadah haji dan puasa Ramadlan.” (Muttafaqun Alaih)

3.      Al-Ijma’
Semua Ulama sepakat bahwa berpuasa pada bulan Ramadlan hukumnya fardlu Ain yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang telah memenuhi sarat wajib dan sahnya berpuasa.

  1. Syarat dan Rukun Puasa
Syarat puasa dibagi dua, yaitu: syarat wajib puasa dan syarat sah puasa.
Syarat wajib puasa yaitu:
1.      Islam, dengan demikian, orang kafir tidak dituntut di dunia untuk berpuasa. Adapun orang murtad, dia wajib meng-qadla puasa yang ditinggalkan saat dia murtad, jika dia sudah kembali lagi masuk Islam.
2.      Baligh, Anak-anak yang belum mencapai usia baligh tidak wajib melakukan ibadah puasa, akan tetapi apabila ia berpuasa maka hukumnya sah.
3.      Berakal, orang-orang yang tidak berakal seperti orang gila, sakit ayan dan yang hilang akalnya tidak diwajibkan melakukan ibadah puasa.
4.      Mampu, baik secara indrawi maupun syar’i. Mampu secara indrawi maksudnya bukan orang yang sangat tua, atau sakit parah yang sulit sembuh. Mampu secara syar’i, artinya bukan orang yang sedang haid atau nifas.
5.      Sehat, karena itu orang yang sakit tidak wajib berpuasa. Ukuran sakit yang menjadikannya boleh tidak berpuasa: sekira jika tetap berpuasa, dikhawatirkan sakitnya tambah parah, atau sembuhnya menjadi lama.
6.      Muqim, dengan demikian, puasa tidak wajib bagi orang yang sedang bepergian jauh (minimal 82 KM) dan perjalanannya merupakan perjalanan yang mubah/boleh, bukan untuk maksiat. Disyaratkan pula, dia berangkat sebelum terbitnya fajar.
Syarat sah puasa yaitu:
  1. Beragama Islam
  2. Berakal
  3. Tidak dalam haid, nifas dan wiladah (melahirkan anak) bagi kaum wanita
  4. Hari yang sah berpuasa.
Rukun Puasa
  1. Niat mengerjakan puasa pada tiap-tiap malam di bulan Ramadhan(puasa wajib) atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai daripada terbenamnya matahari sehingga terbit fajar.
  2. Meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sehingga masuk matahari.
  1. Macam-macam Puasa
Ditinjau dari hukum taklifi, puasa terbagi menjadi empat klasifikasi berikut ini;
Puasa Wajib
  • Puasa Ramadlan
  • Puasa Qodla Ramadlan
  • Puasa Nadzar
  • Puasa Kafarat
Puasa Sunnah
  • Hari Arafah (tanggal 9 Dzul Hijjah bagi muslim yang tidak menunaikan ibadah haji)
  • Hari Asyura (tanggal 10 Muharram) dan Tasu’a (tanggal 9 Muharram)
  • Enam Hari dari Bulan Syawwal
  • Bulan Sya’ban
  • Hari-hari Putih (tanggal 13,14 dan 15 setiap bulan qomariah)
  • Senin Kamis
  • Puasa Dawud (sehari puasa sehari buka)
Puasa Makruh
  • Puasa Arafah bagi yang wuquf di Arafah
  • Mengkhususkan puasa hari Jum’at
  • Mengkhususkan puasa hari Sabtu
  • Puasa pada pertengahan kedua bulan Sya’ban
  • Puasa Wishal (menggabungkan dua hari tanpa berbuka)
  • Puasa Dahr (Menahun)
Puasa yang diharamkan
  • Puasa pada dua hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adlha)
  • Puasa hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah)
  • Puasa hari Syak (tanggal 30 Sya’ban) 

  1. Sunah, Makruh dan Yang Membatalakan Puasa
Sunat Berpuasa
  • Bersahur walaupun sedikit makanan atau minuman
  • Melambatkan bersahur
  • Meninggalkan perkataan atau perbuatan keji
  • Segera berbuka setelah masuknya waktu berbuka
  • Berbuka dengan buah tamar (kurma), jika tidak ada dengan air
  • Membaca doa berbuka puasa.
Perkara Makruh Ketika Berpuasa
  • Selalu berkumur-kumur
  • Merasa (mancicipi) makanan
  • Berbekam kecuali perlu
  • Menggigit-gigit sesuatu yang dikuwatirkan masuk ke tenggorakan
Hal yang membatalkan Puasa
  • Memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan
  • Muntah dengan sengaja
  • Bersetubuh atau mengeluarkan mani dengan sengaja
  • kedatangan haid atau nifas
  • Melahirkan anak atau keguguran
  • Gila walaupun sekejap
  • Mabuk ataupun pengsan sepanjang hari
  • Murtad atau keluar dari agama Islam.

  1. Hikmah dan Keutamaan Puasa

Ada beberapa hikmah dalam berpuasa baik secara spiritual, social maupun kesehatan

Hikmah Ruhiah (spiritual)
  • Penguatan iman dan ketakwaan
  • Melahirkan bentuk ketundukan secara totalitas
  • Menahan diri dari mengikuti hawa nafsu
  • Medan pelatihan kesabaran, kejujuran dan kedisiplinan 
Hikmah Ijtima’iah (sosial)
  • Melahirkan rasa solidaritas yang tinggi sesama muslim
  • Sebagai media pemersatu ummat, karena semua muslim melakukan ibadah ini secara bersamaan dan serentak
  • Mempererat tali ukhuwah islamiah
  • Membiasakan menjalankan aturan-aturan ilahiah atau menumbuhkan kedisiplinan dalam merspon hukum-hukum Islam
  • Mengeleminir tinadakan kriminal dan bentuk-bentuk kemaksiatan.

Hikmah kesehatan
  • Membersihkan kembali usus-usus
  • Memperbaiki alat pencernaan
  • Mengurangi berat badan
  • Menjaga hukum keseimbangan badan
Keutamaan Puasa
Diantara keutamaan puasa sebagai berikut:
  • Media peleburan dosa-dosa kecil
 “Shalat lima waktu, sahlat Jum’at ke Jum’at yang lain, Ramadlan ke Ramadlan yang lain mampu melebur dosa-dosa yang ada diantaranya selama dijauhi dosa-dosa besar.” (HR Muslim)
“Barang siapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan hanya mencari ridlo Allah semata, maka dosa-dosanya yang berlalu akan diampuni.” (Muttafaqun alaih)
  • Benteng api neraka
“Barang siapa yang berpuasa sehara karena Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasa tersebut dari api neraka selam tujuh puluh atahun.” (Muttafaqun alaih)
 “Puasa adalah benteng dari api neraka bagaikan benteng kamu di dalam peperangan.” (HR Ahmad dan yang lain)
  • Sarana dikabulkan do’a
 “Sesungguhnya do’a menjelang berbuka bagi orang yang sedang berpuasa tidak pernah ditolak.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)
  • Sarana mendapatkan pintu “Ar-Rayyan”
 “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut “Ar-Rayyan”, yang mana semua orang yang berpuasa masuk dari pintu tersebut pada hari kiamat. Dan selain mereka tidak diperbolehkan masuk dari pintu tersebut…” (HR Muttafaqun alaih)  

Wallahu A’lam


Achmad Sa’id El-Keratony

Cirebon, Agustus 2011



twitter @said_elkeratony
facebook; A Said El Keratony

Tidak ada komentar:

Posting Komentar