Coretan Stabilo-ku di buku PERANG
Putu Wijaya
Banyak kata-kata bijak yang bisa
kita ambil dari percakapan atau guyonan-guyonan orang lain termasuk
dalam novel ini.
Ungkapan-ungkapan
dibawah ini menurut ane mengandung kata-kata bijak.
·
Lho
teori itu harus berjalan terus, praktek juga terus untuk dapat keseimbangan.
Praktek tanpa teori itu buta namanya.
·
Saya
tidak bilang teori itu tidak perlu. praktek iotu memang berdasarkan teori.
Tetapi praktek itu bukan semata-mata tepori yang dipraktekkan, ini hidup bukan
buku yang gampang diatur.
·
Kalau
ini karena uang, memalukan.kalau ini karena wanita, aib namanya, kalau ini
karena kenakalan, bodoh. Kalau ini karena tidak ada kerjaan lain, lebih bodoh
lagi.
·
Kekecewaan
kamu disini entah kecewa sama apa aku tidak tahu, mungkin uang, cinta atau
pangkat. Aku tidak peduli kekecewaanmu disini membawa kamu ingin mencari
sesuatu kesitu, dan waktu kamu melihat sesuatu langsung kau tafsirkan.
Lanmgsung kau pakai sebagai pembenaran rasa kedongkolanmua disini.
·
Mereka
mengira tersesat itu selalu brarti salah, padahal tersesat itu adalah jalan
untuk menemukan kebenaran yang lebih sejati. Dalam tersesat kamu diasah untuk
mempertimbangkan apa yang sudah kamu putuskan, dan menambah apa yang selama ini
tidak pernah kau pikirkan. Kalau kau berani menempuh jalan yang baru, mau
belajar sedikit, ahirnya kamu akan sampai ketujuan kamu atau kembali kerumah
kamu, dengan cara lain. Sesat itu mendewasakan,memantapkan, dan memberi kamu
bobot, asal kamu tetap mengarahkannya.
·
Hati-hati
Yudistira kamu milik orang banyak, jangan hanya mewakili dirimu, perasaan
pribadimu yang sedang risau jangan diikutkan kalau kamu sedang memikul tugas
untuk orang banyak.
·
Perdamaian
yang palsu lebih ganas dari perang.
·
Manusia
walaupun jasmaninya kelihatan seperti kelebihan, tetapi budayanya membuat ia
tetap mengikuti kewajaran.
·
Bahwa
harmoni adalah yang paling utama dalam kehidupan, walaupun kadang tidak
rasional.
·
Mulut
kita adalah cermin rohani kita.
·
Kita
jangan sampai kagum pada banyangan kita sendiri, kadang-kadang bayangan itu
tinggi besar jika matahari condong, padahal tubuh kita sebenarya tetap kecil.
Kita harus berani mengkritik diri kita sendiri.
·
Semua
kritik pada ahirnya melemahkan semangat, yang membangun semangat itu hanya
pujian ternyata.
·
Tiap-tiap
orang mempunyai sudut terbaiknya yang berbeda dengan orang lain, nah sudut
pandang itu yang harus kita temukan.
·
Bahwa
manusia tidak bisa dilepaskan dari sejarah. Bahwa sejarahlah yang melahirkan
hari ini dan esok, kita harus melek sejarah, sehingga kita tahu posisi kitalalu
memantapkan agem kita agar kokoh. Tidak mengulangi kesalahan dan keburukan
dimasa lalu.
·
Pembaruan
demi pembaruan iti bisa celaka. Hidup inoi bukan experimen … tak usa bicara
pembaruan. Sekartang kebutuhan saja lihat. Butuh tidak? Kalau butuh boleh
tancap, kalau tidak ya buat apa, peduli amat namanya pembaruan atau bukan.
·
Anak
itu terlalu banyak belajar, terlalu ngotot ingin jadu oarng dewasa, ya
beginilah akibatnya. Kedewasaan itu tidak bisa datang dengan ngeden.
·
Kesalahan-kesalahan
itu yang nanti menjadikan kamu pemimpin. Kata Petruk, bagaimana bisa maju kalau
belum melihat kesalahan. Bagaimana kamu
tahu kamu ini mau jadi pemimpin bukanya bos, kalau kamu belum tahu jadfi bos
itu membuat rakyat jadi bodoh? Metreka harus disuapi mereka harus dirangsang
untuk maju, baru kita jadi pemimpin yang sesungguhnya.
·
Mendidik
orang biasa hidup bebas, supaya membangun nasibnya, susah, sama saja
membangunkan raksasa yang sudah kenyang, ini proyek tahunan dan belum tentu
berhasil, untuk mempercepat jalan satu-satunya adalah disiplin, perintah,
paksaan, pendeknya kekerasan.
·
Hidup
ini bukan hadiah, tetapi utang yang harus kita tebus dengan keringat, kalau
kita ingin jadi raja, pemimpin, kita tidak boleh hanya memakai mahkotanya saja,
tetapi kita harus memakai segala kerepotan seorang raja, untuk mejalankan mesin
listrik ini menerangi seluruh kerajaan, kerajaan kita adalah hidup kita dan
keluarga kita. Mari kita terangi sekarang, jangan mengharapkan kehidupan sinar
lampu dari kejauhan, kerlipan sorot mobil, atau sambaran cahaya kilat. Kita
terangi pelahan-lahan dengan sinar mata kita. Mari bekerja, hai
saudara-saudaraku.
·
Surga
itu terletak di rumah kita, bukan di tempat orang lain.
·
Pertapaan
bisa memuncak justru disaat-saat main-main.
·
Kalau
aku bilang hidup ini untuk makan, bapak akan menyuruh aku mencoba, aku akan
dipaksa makan sebanak-banyaknya, apa saja yang ingin aku makan, pokoknya enak.
Makan, pokoknya ingin makan, pokoknya kelihata lezat, langsung ganyang, caplok,
tak peduli harganya, tak peduli kepunyaan orang lain. Waduh mulutku bisa robek
kalau makan terus dan perutku yang sudah mancung ini bisa meledak.
·
Tetapi
sebaliknya, kalau aku bilang makan untuk hidup, berarti jenis makanan tak
terlalu penting, asal bisa hidup. Ayah juga pasti akan menyuruh aku mencoba
makan apa saja adanya, asal bisa hidup, kalau perlu dedaunan, rumput, cacing
atau tanah, pokokny hidup tak perduli enak,tak perduli bukan makanan, tai pun
dimakan,asal itu bisa menjamin hidup. Habis makan untuk hidup kan?.
·
Hidup
bukan untuk makan. Makan juga tidak untuk hidup, orang hidup harus makan, orang
makan harus hidup. Makan dan hidup, hidup dan makan, untuk apa makan kalau
tidak hidup, untuk apa hidup kalau tidak makan, makanlah makanan dan hidupkan
hidup, dua menjadi satu, dalam satu ada dua, kalau masih pisah namanya dunia,
untuk satunya hanya di nirwana.
·
Pikirkan
dulu masa depanmu, baru melihat wanita, kalau sudah menikah berat tanggung
jawabnya.
·
Tak
ada tikus yang tidak berkumis. Tak ada keuntungan yang datang gratis, semuanya harus
dibayar.
·
Kita
harus berani bahwa memang kita kuat. Merendah hati memang bagus sebagai taktik
sementara, tetapi jangan sampai menjadi rendah diri, itu akan menjadi penyakit.
Kata katanya mantap tenan. Bravo kang said berkunjung di fb ku. uselal@yahoo.co.id salam konco
BalasHapus