Kenalan yuk sama Guru yang satu ini.!
Namanya Ahmad Said, beliau biasa di panggil pak Said, ada juga sih yang manggil pak Ahmad dan tidak sedikit pula yang manggil ustadz Said. Padahal beliau sendiri tidak merasa nyaman di panggil ustadz. Beliau lahir di Cirebon (wong Cirebon tulen). Anak ke tiga dari tujuh bersaudara. (keluarga besar yah.. hehe..)
Setelah lulus Sekolah Dasar beliau sempat berhenti sekolah selama tiga tahun karena masalah ekonomi. Dalam mengisi kegiatan tanpa sekolah itu beliau membantu pamannya di bengkel pembuatan becak (kerja). Namun, dari pengalaman itu beliau banyak mengambil hikmah bahwa perjalan hidup manusia itu berputar, penuh lika-liku yang menjadikannya mandiri dan lebih bijaksana.
Walau tiga tahun tidak sekolah beliau tetap suka membaca dan bergabung dengan teman-temannya untuk mendirikan perpustakaan umum di desanya, bahkan saat itu beliau sendiri bercita-cita mempunyai perpustakaan pribadi di rumahnya. dan sekarang beliau sudah mengoleksi kurang lebih lima ratus buku dan kitab di rumahnya.
Setelah tiga tahun tidak sekolah akhirnya beliau di antar kakaknya ke salah satu pesantren di daerah Cirebon Barat. Beliau menempuh pendidikan pesantren kurang lebih tujuh tahun lamanya. Selama di pesantren kemandiriannya semakin ter-asah.
Sekarang beliau mengajar di SMA Negeri 5 kota Cirebon mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), sebelumnya beliau pernah mengajar dibeberapa tempat dan sempat mengajar di pondok pesantren almamaternya juga di salah satu pesantren di bilangan Jakarta Timur.
Dalam mengajar beliau dikenal dengan selogan “santai tapi pasti, sopan lan santun”. Beliau saat mengajar seperti tidak bisa marah padahal beliau adalah manusia biasa yang kapan saja bisa marah. (Tapi bener juga sih ngapain ngajar galak klo toh siswa masih bisa di ajak santai dalam belajar. hehehe.. red). Prinsip belajar sama beliau adalah yang penting nurut.
Prestasi laki-laki berbintang Aries ini sebenarnya tidak sedikit cuma karena beliau orangnya tawadhu’ jadi banyak orang yang tidak mengetahuinya. Namun, prestasi terindah beliau adalah berhasil melamar "pacar" (tepatnya bukan pacar sich karena dalam Islam tidak ada istilah pacaran) di hadapan calon mertuanya dengan PeDe (sendirian loh. wkwkwk..) dan lamarannya berhasil. Dua bulan kemudian beliau berhasil menghapus kata “calon” pada kalimat “calon Mertua”, karena berhasil menikahi putri mertuanya yang cantik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar