Beberapa hari lagi puasa, namun suasana puasa udah mulai terasa apalagi klo liat tv, wihh..! iklan yang bertema puasa pada berjibun jdi serasa udh ada di bulan puasa. Namun sayang puasa tahun ini didahului naiknya harga BBM jdi harga-harga ikut pada naik, ya.. walau seperti tahun-tahun sebelumnya tanpa ada kenaikan harga BBM juga menghadapi masuknya bulan puasa harga-harga kebutuhan pokok pada naik. (lah ko’ jdi bahas BBM sih... ^_^).
Ngomongin puasa tentu tidak lepas dari kata “niat”, ya emang sih tidak puasa saja yang berkaitan dengan niat, semua hal (baca;amal) juga tidak luput dari niat, sebagaimana yang dipahami dari sabda Nabi SAW.
انماالاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang memperoleh balasan atas apa yang ia niatkan,.....” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab)
Niat merupakan rukun puasa, sebagaimana dipahami dalam puasa ada dua rukun yaitu niat ama menahan diri dari hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar (subuh) ampe tebenamnya matahari (maghrib). Hanya saja kadang orang tidak memahami pengertian niat yang sebenarnya sehingga tanpa disadari karena ketidak pahamannya terhadap niat itu bisa menyebabkan puasanya tidak sah. (rugi dong laper, haus, cape dll. seharian ga dapet apa-apa,..!) disinilah perlunya kita memahami arti niat dengan benar.
Niat adalah maksud atau kehendak. Dalam istilah fiqh niat mempunyai pengertian
قصد الشئ مقترنا بالفعل artinya menyengaja sesuatu dibarengi dengan perbuatannya. ya.. ambil contoh shalat, niat shalat yaitu pada saat (berbarengan) takbiratul ihram (baca;mengucap Allohu Akbar). Wudlu pada saat membasuh muka, bukan saat membasuh kedua telapak tangan atau saat berkumur, karena membasuh muka merupakan bagian anggota wudlu pertama (baca;rukun) yang dibasuh, sehingga bila niat wudlu saat membasuh kedua telapak tangan atau saat berkumur atau sesudah membasuh muka, maka wudlunya tidak sah. Akan tetapi dalam puasa ada ketentuan khusus dalam niat. Niat puasa tidak harus berbarengan dengan puasa itu tersebut artinya niat puasa tidak harus berbarengan dengan mulai masuknya waktu puasa yaitu waktu fajar (baca;subuh), karena melihat susahnya melakukan hal demikian. Bisa dibayangin selama berpuasa kita harus selalu menunggu waktu subuh tiba, bila terlewat satu menit saja puasa kita tidak sah.
Dari pengertian niat dapat dipahami juga bahwa tempat niat adalah di hati bukan di lidah, sehingga ketika seseorang mengucapkan “nawaitu shauma ghodin ‘an adai fardhis-sahri romadhoni.......” tetapi dalam hatinya tidak niat maka puasanya tidak sah. Kadang kita tidak menyadari kalau niat puasa bareng-bareng dipimpin oleh imam setelah shalat tarawih itu tidak mencukupi (baca;tidak dibilang niat dalam pandangan hukum fiqh) sehingga kita pun tidak niat lagi dalam hati. (klo demikian kan ntar puasanya bisa tidak sah, wong..! niatnya aja tidak sah jeh..! jadi harus gimana donk,.? ^_^) Oleh karenanya, saat niat puasa bareng-bareng bersama imam pada saat niat dalam bahasa arab (nawaitu shauma ghodin ‘an adai fardhis-sahri romahoni....) kita ikut bareng-bareng namun saat artinya (Aku berniat puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan ramadhan ......) itu dalam hati, atau sepulang shalat tarawih, sesudah makan sahur atau waktu-waktu yang lainnya dimalam hari kita niat kembali dalam hati.
Sebenarnya dalam hal niat itu ga ribet, saat kita makan sahur dengan tujuan biar besoknya (puasa) tidak laper dan haus itu juga sudah termasuk niat, sebagaimana keteranagan terdapat dalam kitab Tanwir al-Qulub hal. 228
Kembali ke judul tulisan “Niat puasa untuk satu bulan”. Seperti disinggung di awal tulisan bahwa niat termasuk rukun puasa sehingga bila puasa tidak disertai (diawali) niat maka puasa tidak sah. Nah..! terus kapan waktu niat puasa?
Pendapat pertama, bahwa niat diharuskan pada setiap hari (malam) pada bulan Ramadhan.
Berdasarkan sabda Nabi SAW :
ﻗﺎﻞ ﺭﺴﻮﻞ ﺍﻟﻟﻪ ﺼﻟﻰ ﺍﻟﻟﻪ ﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻟﻢ : ﻤﻦ ﻟﻡ ﻴﺑﻴﺕ ﺍﻟﺼﻴﺎﻢ ﻗﺑﻞﺍﻟﻔﺠﺮ ﻔﻼ ﺼﻴﺎﻢ ﻟﻪ . ﺮﻭﺍﻩﺍﻟﺨﻤﺴﺔ
“Barang siapa yang tidak niat pada malam itu sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (H.R. Imam yang lima)
Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama.
Dalam penafsiran ulama yang menyatakan pendapat ini, hadits dan atsar tersebut berlaku pada setiap hari di bulan Ramadhan secara terpisah. Disebabkan puasa Ramadhan adalah ibadah dan setiap ibadah disyaratkan adanya niat.
Pendapat kedua, niat hanya diharuskan sekali di awal bulan. Pendapat ini merupakan mazhab Imam Malik, al-Laits bin Sa’ad, Imam Ahmad pada salah satu riwayat beliau dan Ishaq.
Mereka mengatakan, bahwa penamaan bulan Ramadhan mengacu pada satu zaman waktu. Dan ibadah puasa Ramadhan dari awal hingga akhir adalah sebuah ibadah yang satu layaknya shalat dan haji, dengan begitu hanya membutuhkan sekali niat.
Melihat dua pendapat diatas, mazhab syafi’i mengharuskan niat puasa pada setiap harinya (malam), namun ulama mazhab syafi’i menganjurkan untuk bertaqlid kepada imam Malik yaitu niat berpuasa untuk satu bulan yang dilakukan pada malam awal puasa ramadhan hal ini untuk menghindari kalau nanti lupa niat di tiap malamnya di bulan ramadhan, sebagaimana keterangan pada kitab hasyiyah al-Bajuri hal. 288 dan kitab Nihayah az-Zain hal. 184.
Jadi, menurut hemat ane sih sebaiknya kita pake keduanya, diawal ramadhan kita niat puasa untuk satu bulan (siapa tau dalam perjalanan puasa kita lupa niat di malam hari namanya juga manusia wajarlah kalau lupa, iya ga’ sob..?! ^_^). kemudian dalam tiap malamnya pun niat. (mantap kan jadinya,,.^_^).
Trus gimna niatnya? Niat dalam ibadah fardlu seperti shalat, puasa dll. sebenernya simpel saja yang penting dalam niat itu ada qosd, ta’yin dan kefardluan. Qosd maksudnya ada keinginan atau kesengajaan dalam melakukan ibadah. Ta’yin maksudnya kita menentukan jenis ibadahnya artinya ada kejelasan ibadah apa yang mau kita jalani. Sedangkan kefardluan adalah penjelasan bahwa ibadah yang mau kita jalankan adalah bersifat fardlu bukan sunah. Mudahnya sih dalam niat ada kalimat fardlu. (masih bingung ya?. ^_^)
kita ambil contoh misalnya niat shalat dzuhur;
اصلى فرض الظهر اربع ركعات مستقبل القبلة اداء لله تعالى
Niat di atas sudah mencukupi malah bisa dibilang sempurna, karena sudah terdapat unsur qosd, ta’yin dan fardlu. Penjelasannya, Kalimat اصلى adalah qosd, kalimat الظهر adalah ta’yin dan kalimat فرض adalah kefardluan.
Bila mengacu pada tiga unsur niat di atas, maka niat shalat tadi bisa diringkas menjadi;
اصلى فرض الظهر اداء لله تعالى tanpa menyebut jumlah rakaat ( اربع ركعات) dan arah shalat ( مستقبل القبلة ), karena sudah maklum jumlah rakaat shalat dzuhur adalah empat rakaat dan arah shalat adalah kiblat. Tetapi bila shalat berjamaah atau shalat jumat harus ditambah kalimat مأموما (ma’muman) setelah kalimat اداء (ada’an).
Niat puasa Ramadhan
Niat untuk tiap hari
نويت صوم غد عن اداء فرض شهر رمضان هذه السنة لله تعالى
Nawaitu shouma ghodhin ‘an ada-i fardhi syahri romadhoni hadzihis-sanati lillahi ta’ala
Artinya : Aku berniat puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan ramadhan tahun ini kerana Allah Ta’ala.
Niat puasa untuk satu bulan
نويت صوم فرض شهر رمضان كله هذه السنة لله تعالى
Nawaitu shouma fardli syahri romadhoni kullihi hadzihis-sanati lillahi ta’ala.
Artinya : Aku berniat puasa satu bulan ramadhan penuh tahun ini kerana Allah Taala.
Wallahu A’lam
Referensi
Abi ‘Abdi Al-Mustafa Muhamad Bin ‘Umar Bin ‘Ali Nawawi, Nihayah Azzaian Fi Irsyad Almubtadi’in, Toha Putra Semarang.
As-Syaikh Muhamad Amin Al-Kurdi, Tanwir Al-Qulub Fi Mu’amalah ‘Alam Al-Ghuyub, Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyah, Indonesia.
As-Syaikh Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyah Al-Bajuri ‘Ala Ibn Qasim Al-Ghuzzy, Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyah, Indonesia.
Al-Imam An-Nawawi, Telaah Hadist Arba’in An-Nawawiyyah, Ziyad Visi Media, Surakarta, 2006.
El-keratony di kamar yang penuh inspirasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar